Rabu, 29 Jun 2011

ASAL USUL SUKU ANAK DALAM ..D' JAMBI.

Cerita asal-usul Suku Anak Dalam terjalin dalam beberapa versi. Salah satu cabangnya, kelompok Batin Sembilan, sudah menetap dan terbuka terhadap dunia luar Populasinya tak banyak bertambah.

Sehari-hari tanpa pakaian, kecuali kain penutup kemaluan. Tempat tinggalnya hanyalah dibatasi dinding kayu dan atap rumbia. Buah-buahan hutan, kijang, ayam hutan, atau rusa jadi santapan sehari-hari. Untuk minum, mereka mengandalkan air sungai yang diambil dengan cara sederhana, menggunakan bonggol kayu.

Itulah gambaran umum tentang masyarakat Suku Anak Dalam yang juga dikenal dengan sebutan Orang Rimba. Uniknya, walau sudah banyak pakar yang mengkaji, soal asal-usul kelompok etnis yang masih terbelakang ini masih belum jelas benar. Belum ada ahli antropologi yang bisa memastikan riwayat suku yang tersebar di beberapa kawasan di Jambi ini.

Dan riwayat mereka pun berkembang dalam beberapa versi. Salah satu pakar yang lama meneliti suku ini adalah Prof. Dr. Muntholib Soetomo. Dia pula yang pertama kali memperkenalkan sebutan Orang Rimba pada kelompok masyarakat yang masih tinggal di pedalaman Sumatera ini. Muntholib mengungkapkan, sebetulmnya ada tiga kelompok Suku Anak Dalam. Pertama, mereka yang mendiami kawasan di sekitar Taman Nasional Bukit Tigapuluh diseburnya sebagai Suku Talang Mamak. Kedua, mereka yang tinggal di sekitar Taman Nasional Bukit Dua Belas dijuluki Orang Rimba, Ketiga, mereka yang ada di Sumatera Selatan adalah Orang Batin Sembilan.

Muntholib Soetomo

Dahulu kala, menurut Muntholib, wilayah Kerajaan Jambi cukup luas sampai meliputi kawasan Sei Lilin di Sumatra Selatan dan Pagaruyung di Sumatera Barat. Berdasarkan penelitiannya selama lima tahun, sejak 1990 hingga 1995, ia menyimpulkan bahwa ketiga kelompok suku itu hidup sejak tahun 1200. Kemudian, sekitar tahun 1500-an, timbul masalah antara Kerajaan Pagaruyung dan Kerajaan Jambi. Untuk menyelesaikan masalah itu, Kerajaan Pagaruyung mengirim beberapa orang utusan ke Kerajaan Jambi.

Para utusan itu menempuh perjalanan yang jauh dengan berjalan kaki. Malang tak dapat ditolak, sebelum sampai ke tujuan mereka kehabisan bekal di tengah jalan. Akhirnya, para utusan ini meng-”kubu”-kan diri alias bertahan di lokasi itu yang kini dikenal sebagai kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas, sampai beranak cucu. Mereka inilah cikal-bakal Orang Rimba yang disebutkan tadi.

Versi lain diungkapkan oleh Munawir Muchlas pada 1975. la menyebutkan adanya berbagai hikayat dari penuturan lisan yang dapat ditelusuri seperti Cerita Buah Gelumpang, Tambo Anak Dalam (Minangkabau), Cerita Orang Kayu Hitam, Cerita Seri Sumatera Tengah, Cerita Perang Bagindo Ali, Cerita Perang Jambi dengan Belanda, Cerita Tambo Sriwijaya, Cerita Turunan Ulu Besar clan Bayat, Cerita tentang Orang Kubu.           ,

Dari beragam hikayat tersebut, Muchlas menarik kesimpulan bahwa Suku Anak Dalam berasal dari tiga turunan. Pertama, turunan dari Sumatera Selatan yang umumnya tinggal di wilayah Kabupaten Batanghari. Kedua, Keturunan dari Minangkabau, umumnya berada di Kabupaten Bungo Tebo clan sebagian Mersam di Batanghari. Ketiga, Keturunan dari Jambi asli, yaitu Kubu Air Hitam Kabupaten Sarolangun Bangko.

Versi lain disusun oleh tim dari Departemen Sosial yang dimuat dalam terbitan berkala Profil Masyarakat Terasing. Terkisah, pada zaman dahulu kala, pecah perang antara Kerajaan Jambi yang dipimpin oleh Putri Selaras Pinang Masak dan Kerajaan Tanjung Jabung yangdipimpin Rangkayo Hitam. Peperangan ini semakin berkobar, hingga beritanya sampai ke telinga Raja Pagaruyung, yang bukan lain adalah ayah Putri Selaras Pinang Masak.

Untuk menyelesaikan peperangan tersebut, Raja Pagaruyung mengirimkan prajurit-prajurit yang gagah berani untuk membantu Kerajaan Jambi. Raja Pagaruyung memerintah mereka untuk membantu menaklukkan Rangkayo Hitam. Para prajurit itu menyanggupinya clan bersumpah tidak akan kembali sebelum meraih kemenangan.

Jarak antara Kerajaan Pagaruyung dan Kerajaan Jambi sangat jauh, barns melalui hutan belantara dengan berjalan kaki. Setelah berjalan berhari-hari, kondisi para prajurit ini mulai menurun, sedangkan persediaan bahan makanan sudah habis. Mereka pun kebingungan. Perjalanan yang harus ditempuh masih jauh. Kembali ke Kerajaan Pagaruyung, mereka malu.

Memasang pelabuh, jerat untuk tikus hutan

Mereka pun bermusyawarah. Walhasil, mereka memutuskan bertahan hidup di dalam hutan. Untuk menghindari kemungkinan bertemu dengan warga Pagaruvung dan merasa malu, mereka mencari tempat sepi clan jauh ke dalam rimba raya. Keadaan kehidupan mereka makin lama kian terpencil. Keturunan mereka inilah konon yang menamakan dirinya Suku Anak Dalam.

Ada lagi yang mengait­-ngaitkannya dengan riwayat Kesultanan Palembang clan Kerajaan Jambi, yang sejatinya masih serumpun. Menurut versi ini, asal-usul Suku Anak Dalam dapat dirunut sejak tahun 1624, saat dimulainya ketegangan hubungan antara kedua kerajaan tersebut. Ketegangan pun berpuncak dengan pecahnya perang pada 1629. Itu sebabnya, menurut versi ini, sekarang ada dua kelompok Suku Anak Dalam dengan bahasa, bentuk fisik, adat istiadat, dan tempat tinggal yang berbeda.

Ada kelompok Suku Anak Dalam yang bermukim di hutan belantara kawasan Musi Rawas, Sumatera Selatan. Kelompok ini berkulit kuning dengan postur tubuh mirip ras Mongoloid, seperti orang Palembang. Kelompok inilah yang diduga merupakan keturunan Kesultanan Palembang. Sedangkan kelompok lainnya mendiami kawasan hutan di Jambi. Kulit mereka ini berwarna sawo matang, berambut ikal, dan mata agak menjorok ke dalam. Mereka mirip ras India (Wedoid) dan konon keturunan tentara bayaran Kerajaan Jambi.

Ada lagi versi cerita lain yang mengungkap asal-usul kelompok Batin Sembilan yang masih merupakan bagian dari Suku Anak Dalam juga. Syahdan, pada zaman Kerajaan Melayu Jambi dahulu. Raja Jambi Maruhun melakukan perjalanan menelusuri Sungai Batanghari, kemudian naik ke Sungai Batang Tembesi. Di suatu tempat, Sang Raja bertemu dengan perempuan yang cantik jelita. Raja pun sangat tertarik dengan kecantikan perempuan, yang diketahui bernama Bayan Lais itu.

Suku Batin Sembilan

Singkat cerita, raja pun mengawini Bayan Lais. Dari pernikahan ini lahirlah Raden Ontar. Setelah menikah, Raden Ontar mempunyai anak bernama Raden Nagasari. Raden Nagasari sendiri kemudian memiliki sembilan anak, delapan laki-laki dan seorang perempuan. Anak-anak Raden Nagasari ini kemudian menyebar ke sembilan anak sungai yang berada di sekitar Sungai Batanghari, Batang Tembesi, dan Sungai Lalan.

Semua anaknya yang laki-kaki memilih tempat di wilayah timur Batanghari dan Batang Tembesi, yaitu Sungai Burung Hantu, Telisa, Sekamis, Pemusiran, Jangga, Jebak, Bulian, dan Bahar. Sedangkan anak perempuannya memilih berada di wilayah barat Batanghari, yaitu Sungai Singoan. Persebaran kesembilan keturunan Raden Nagasari inilah yang kemudian berkembang menjadi suku Batin Sembilan atau Orang Dalam.

Batin Sembilan merupakan komunitas yang hidup dari petualangan dan mengambil hasil hutan. Mereka sudah lama hidup menetap clan berinteraksi dengan orang luar. Terutama pada masa penjajahan Belanda ­dengan adanya eksplorasi minyak bumi, daerah-daerah pemukiman Batin Sembilan telah terhubung dengan dibukanya sejumlah ruas jalan. ­Pembukaan jalan-jalan ini pula yang menyebabkan banyak migran menetap di daerah komunitas Batin Sembilan. Keadaan ini sekaligus meningkatkan interaksi mereka dengan orang luar.

Kini, dengan adanya pembentukan desa, masyarakat Batin Sembilan tersebar di 18 desa. Sebagian bermukim di Desa Naga Sari, Pelempang, Nyogan. Tanjung Pauh 39, dan Merkanding. Sebagian lainnya menetap di Desa Tanjung Lebar, Ladang Peris, Kilangan, Sengkawang, Pompa Air, Bungku, Jebak dan Jangga Aur. Ada juga komunitas mereka yang menyebar di Desa Muara Singoan, Pemusiran, Lubuk Napal, Lamban Segatal, dan Sepintun.

Komunitas Batin Sembilan memang tampak berbeda dibandingkan dengan suku-suku Anak Dalam lainnya. Terutama sejak Departemen Sosial menggulirkan Program Pemukiman Kembali Masyarakat Terasing pada 1970-an. Program ini cukup berhasil untuk komunitas Batin Sembilan karena mereka mau diajak hidup menetap. Tapi tidak demikian halnya dengan Orang Rimba yang tetap bertahan dengan pola hidup nomaden.

Menurut basil survei Kelompok Konservasi Indonesia Warsi, pertambahan jumlah anggota kelompok Orang Rimba dari tahun ke tahun tidak berubah banyak. Hal itu diungkapkan Rudi Syaf, Manajer Program Komunikasi dan Informasi Warsi. Menurut catatannya, total populasi Suku anak Dalam sekitar 3.500 jiwa. “Tingkat kelahiran tinggi, tapi tingkat kematiannya juga meningkat,” Rudi menyebut penyebabnya.

Dari jumlah itu, sekitar 1.700 jiwa berdiam di sekitar jalan lintas timur Sumatera. Lalu, ada sekitar 450 jiwa berada di kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh. Yang bermukim di sekitar kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas kurang-lebih 1.500 jiwa. Se­dangkan suku Batin Sembilan sulit dike­tahui persis berapa populasinya. “Sebab. mereka sudah tersebar dan berbaur dengan suku-suku lain, seperti Jawa dan Batak,” kata lelaki berusia 41 tahun itu.




Khamis, 23 Jun 2011

PANTUN MELAYU;

PANTUN ADAT

Ada sirih ada pinang, 
Nantikan gambir dengan kapur; 
Sudah dipilih sudah dipinang, 
Hanya menanti ijab kabul. 

Air surut ikan geramai, 
Sudah dapat ikan tenggiri; 
Masa hidup kita berdamai, 
Mati nanti seorang diri. 

Ambil galah jolok kedondong, 
Galah patah menimpa dahan; 
Bukannya salah ibu mengandung, 
Sudah nasib permintaan badan. 

Anak udang, udang juga, 
Tidak sama anak tenggiri; 
Anak orang orang juga, 
Tidak sama anak sendiri.

Anjunglah Siam patah kemudi, 
Ambil paku lantak di papan; 
Diamlah diam tidak berbunyi, 
Lupalah malu bertepuk sopan. 

Apa dijual apa dibeli, 
Mari sukat gantang Ali; 
Bahasa tak boleh dijual beli, 
Dari hidup sampai mati. 

Baru kembang bunga seroja, 
Sudah ada orang mencuri; 
Besar-besar istana raja, 
Kecil-kecil pondok sendiri. 

Bawa anjing pergi berburu, 
Berburu sampai ke Tanjung Pinang; 
Sudah bersetuju ayah dan ibu, 
Bolehlah abang masuk meminang. 

Berkokok ayam di lanting, 
Menyahuti ayam di paya; 
Makan pinang sirih digunting, 
Dikepit juga sama suara. 

Bubuh racun di dalam gelas, 
Kalau minum tentulah mabuk; 
Tuan terima dengan ikhlas, 
Boleh tidak saya nak masuk. 

Buah keranji buah delima, 
Mari letak atas meja; 
Sirih pinang sudah kuterima, 
Tanda jadi kita berdu

Tenang-tenang air di laut,
Sampan kolek mudik ke tanjung;
Hati terkenang mulut tersebut,
Budi baik rasa nak junjung.






.

Isnin, 20 Jun 2011

ADAT RESAM MELAYU.

Bangsa Melayu amat terkenal dengan sifat lemah lembut dan sopan santunnya. Kehidupan sehari-hari sangat dipengaruhi oleh persekitaran masyarakatnya. Dan kebiasaan ini telah menjadi amalan turun-temurun zaman-berzaman yang diwarisi dari nenek moyang mereka. Tak lapuk dek hujan, tak lekang dek panas, begitulah amalan-amalan tertentu ini tetap diamalkan walaupun arus kemodenan telah lama menyerapi kehidupan masyarakat Melayu di negara kita ini.
Setelah kedatangan Islam lebih 700 tahun yang lalu amalan-amalan tertentu di dalam kehidupan seharian ini telah disesuaikan dengan tuntutan dan saranan agama, mana-mana amalan yang bertentangan dengan ajaran agama Islam telah ditinggalkan serta tidak diamalkan lagi. Amalan ini juga dipanggil sebagai adat.
Pepatah melayu "Biar mati anak, jangan mati adat", merujuk kepada betapa pentingnya adat serta amalannya dalam masyarakat melayu. Terdapat banyak pepatah serta ungkapan yang merujuk kepada perlaksanaan sesuatu adat itu. Kebanyakkan adat adalah juga merupakan peraturan terhadap kehidupan sehari-harian, ia juga dipanggil ritual.
Berikut adalah beberapa rentetan adat resam Melayu yang pernah diamalkan dan ada yang masih diamalkan hingga ke hari ini:

ADAT RESAM MELAYU.

BERSANDING
Sebelum majlis persandingan dijalankan, pelamin akan disiapkan terlebih dahulu. Pelamin adalah berbentuk seperti suatu singgahsana yang dilengkapi dengan bangku atau kaus atau dua buah kerusi yang dipanggil peterakna sebagai tempat duduk kedua-dua pengantin tersebut semasa bersanding. Pelamin diperbuat daripada kayu dan kertas tebal yang dibalut dan dihiasi dengan kertas-kertas bunga dan kain-kain sutera yang berwarna-warni. Biasanya bagi masa dahulu, terdapat pelbagai pelita kecil yang bermacam warna diletakkan di sekeliling bagi menambah keindahannya. Besar atau kecil, mahal atau murah, dan elok atau buruknya pelamin itu adalah bergantung kepada kemampuan tuan rumah dan kepandaian tukang pelamin tersebut. Ketinggian pelamin biasanya adalah dua atau tiga tingkat, dan setiap satu tingkat hanyalah lebih kurang satu kaki sahaja tingginya. Peterakna atau kaus tempat duduk pengantin semasa bersanding akan dibalut dengan kain sutera atau baldu berwarna-warni dan bertekat sulam yang indah. Peterakna itu diletakkan di tingkat yang atas sekali dan di hadapannya diletakkan satu pahar yang dipanggil oleh orang Melayu dengan nama astakona. Ia berisi nasi kunyit yang dihiasi dengan bunga-bunga telur bercelup merah dan di kemuncak gubahan nasi kunyit itu dicacakkan sejambak karangan bunga yang diperbuat daripada kertas perada dan manik jemeki yang berwarna-warni dan berkilauan.
Apabila sampai masa untuk kedua-dua pengantin itu disandingkan, maka perkara yang mula-mula sekali dilakukan ialah memakaikan pengantin perempuan, dan apabila pemakaian pengantin perempuan dimulakan, pihak mempelai akan diberi khabaran awal bagi memudahkan mereka bersiap untuk berangkat datang. Apabila pengantin perempuan sudah hampir siap atau sudah siap berpakaian, khabaran akhir akan dihantar kepada pihak mempelai dengan tujuan supaya mempelai itu boleh berangkat datang tepat pada masanya.
Setelah lengkap pengantin perempuan itu dipakaikan dengan pakaian Melayu asli yang serba indah, maka beliau pun dipimpin oleh emak pengantin bersama-sama dengan seorang budak perempuan sebagai pengapit yang turut dihias indah berjalan perlahan-lahan naik ke pelamin dan didudukkan di atas peterakna pelamin di sebelah kiri. Pengapit akan berdiri di kiri pengantin dengan satu kipas bertekat di tangannya dan berperanan mengipas pengantin itu secara periahan-lahan. Jika mengikut adat, pengantin perempuan itu hendaklah sentiasa duduk sepanjang berada di atas pelamin dengan kedua-dua matanya memandang ke bawah dan menundukkan kepala sedikit sebagai tanda malu dan sopan yang memang sinonim dengan wanita Melayu. Biasanya, rombongan mempelai akan mula berarak keluar dari rumah menuju ke rumah pengantin perempuan betul-betul selepas pengantin perempuan dibawa duduk di atas pelamin. Namun begitu, sekiranya rumah mempelai terletak agak jauh maka mempelai itu akan dibawa keluar berarak sebelum pengantin perempuan itu diletakkan di atas pelamin supaya tidak menyakiti pengantin perempuan itu kerana terlalu lama duduk menunggu. Perkataan menyakiti dalam konteks ayat ini bermaksud pengantin perempuan akan berasa kurang selesa sepanjang persandingannya kerana pakaian yang dipakaikan kepadanya adalah pakaian khas pengantin yang terlalu sarat dengan perhiasan yang berat-berat dan kainnya diperbuat daripada jenis yang tebal, terutamanya perhiasan di kepala.
Pengantin lelaki yang juga sudah siap berpakaian selengkap pakaian cara Melayu asli iaitu bertengkolok, berbengkong dan berkeris, akan mula dibawa berarak dengan berjalan kaki. Pada zaman dahulu, di kampung-kampung terutamanya, bagi pengantin lelaki dari keluarga yang berpangkat atau yang berkemampuan, beliau akan diarak dengan didudukkan di atas usungan yang dipanggil tandu. Di antara adat dalam mengarak pengantin adalah seperti berikut:
Di hadapan sekali yang mengetuai rombongan tersebut adalah pasukan berebana, berkompang atau bermarhaban. Di belakang pasukan ini adalah orang yang membawa tepak sirih atau puan yang lengkap dengan isinya dan siap bertudungkan penudung yang diperbuat daripada perak atau tembaga putih berbentuk seperti kepala merak jantan. Pembawa tepak sirih itu akan diapit oleh dua orang yang membawa kaki dian yang sudah sedia terpasang dan di belakang ketiga-tiga pembawa hantaran itu adalah mempelai bersama pengapitnya. Sama seperti pengantin perempuan, pengapitnya akan turut disiapkan dalam pakaian yang indah dan biasanya terdiri dari kalangan pemuda yang belum berkahwin. Turut ada bersama ialah seorang lelaki yang berpangkat tua dalam keluarga di sisi mempelai. Di belakang pengantin mempelai adalah rombongan ahli keluarga dan sahabat handai bagi mewakili pihak lelaki. Pada masa dahulu, rombongan itu biasanya akan turut membawa beberapa batang penyuluh api minyak tanah atau andang, sambil mereka beramai-ramai berzikir dan bermarhaban berselang-seli dengan paluan kompang serta pukulan rebana. Biasanya, sekumpulan wakil kaum perempuan dari pihak mempelai akan tiba terlebih dahulu dari rombongan pengantin. Mereka akan disambut dengan taburan beras kunyit dan akan duduk menunggu di hadapan pelamin yang biasanya dibina di ruang tamu rumah.
Di hadapan halaman rumah pengantin pula adalah tempat untuk orang-orang lelaki berhimpun untuk menyambut ketibaan mempelai. Mereka turut bersedia dengan paluan kompang dan rebana, seorang pembawa tepak sirih yang tudungnya berbentuk seperti kepala merak betina, dan diikuti dengan dua orang pembawa dian. Marhaban dan zikir turut dialunkan bagi memeriahkan suasana. Apabila rombongan mempelai telah tiba, mereka akan berhenti pada jarak lebih kurang sepuluh ela dari rumah pengantin. Si pembawa tepak sirih mempelai akan membuka silat mencabar pembawa tepak sirih pengantin perempuan. Kedua-duanya akan mempersembahkan silat pengantin yang gayanya seperti merak mengigal. Oleh yang demikian, biasanya pembawa tepak sirih akan dipilih dari kalangan lelaki yang mahir dalam silat Melayu dan pertunjukan ini biasanya sangat dinantikan oleh semua yang hadir.
Pertunjukan silat akan dijalankan dalam masa beberapa minit. Sebagai penutup, mereka akan menemukan kedua-dua muncung merak yang menjadi tudung kepada kedua-dua tepak sirih itu dan akan disambut dengan sorak-sorai yang gemuruh daripada tetamu yang hadir. Mempelai kemudiannya akan dipimpin ke pintu rumah dan sebelum masuk, salah seorang wakilnya akan membacakan selawat sebanyak tiga kali dengan alunan yang sedap dan kuat sebagai tanda memberi selamat kepada mempelai sebelum masuk ke rumah. Pada tangga terbawah sekali di luar pintu masuk rumah akan dihamparkan dengan permaidani yang panjang sehingga ke tapak tingkat pelamin sebagai alas untuk mempelai berjalan.
Biasanya pada zaman dahulu, sebelum mempelai dibawa masuk melalui pintu hadapan, beliau akan disekat oleh sekumpulan pemuda yang ditugaskan untuk mengutip bayaran tebus pintu mengikut seperti yang telah dipersetujui oleh kedua-dua belah pihak. Jika terdapat dua pintu untuk dilalui, maka mempelai dimestikan membayar dua kali sebelum dibenarkan masuk. Lain pula cerita di pelamin. Sekumpulan pemudi akan bersedia di pelamin, menyekat mempelai untuk duduk bersanding di sisi pengantin perempuan selagi mereka belum menerima bayaran harga tebus pelamin.
Setelah bayaran tebus diselesaikan maka mempelai akan dibawa naik sehingga ke hadapan peterakna untuk disandingkan di sebelah kanan pengantin perempuan. Akan tetapi sebelum itu, beliau sekali lagi terpaksa membayar bayaran tebus yang akhir, iaitu bayaran tebus kipas, yang pada masa itu sedang dipegang oleh emak pengantin bagi mendinding muka pengantin perempuan itu. Bayaran tebusan ini pun mesti disempurnakan, dan di antara ketiga-tiga bayaran tebus itu bayaran tebus kipas inilah yang termahal sekali. Setelah bayaran disempurnakan maka barulah emak pengantin membuka muka pengantin perempuan itu dan menyambut mempelai untuk didudukkan di sebelah kanan pengantin perempuan dan pengapit mempelai itu berdiri di sebelah kanan mempelai itu.
Kedua-dua pengantin akan duduk bersanding di hadapan kesemua tetamu dan keadaan inilah yang disinonimkan dengan istilah raja sehari. Hal ini kerana keadaan pengantin itu duduk di atas pelamin di hadapan kesemua tetamu adalah sama seperti situasi rakyat jelata yang sedang mengadap raja dan permaisurinya. Apa yang berbeza hanyalah mereka tidak dijunjung duli dan hanya menjadi tontonan.
 Semasa bersanding, emak pengantin akan menjalankan adat bersuap-suapan di antara kedua-dua pengantin. Emak pengantin akan menjemput sedikit nasi kunyit daripada pahar astakona dan diletakkannya ke tangan pengantin perempuan. Dengan memegang nasi itu menggunakan dua jari, tangan pengantin perempuan akan diangkat oleh emak pengantin lalu disuapkan ke mulut mempelai itu. Setelah itu, giliran pengantin lelaki pula.
Setelah selesai adat bersuap-suapan, emak pengantin pun turun daripada pelamin dan sekelian sanak saudara dan sahabat handai pengantin lelaki yang belum naik melihat persandingan itu dijemput naik. Ini kerana adat persandingan adalah upacara terbesar dan paling disukai oleh masyarakat Melayu. Bunga telur yang dicucuk pada nasi kunyit di astakona tersebut akan dicabut dan dibahagikan kepada tetamu perempuan yang hadir dalam majlis itu seorang sebiji atau sekadar yang mencukupi.
Setelah itu, kedua-dua pengantin dibawa oleh emak pengantin turun daripada pelamin berjalan perlahan-lahan dengan keadaan kedua-duanya berpimpin tangan dan jari kelengkeng mereka dikaitkan satu sama lain. Mereka dibawa terus masuk ke dalam bilik peraduan pengantin, yang sudah sedia disiapkan dan dihiasi dengan perhiasan yang cantik dan indah.
Di dalam bilik, kedua-dua pengantin akan duduk bersanding di atas tikar sila, yang bertekat dan bersulam dengan benang emas terletak di hadapan katil. Setelah kedua-duanya duduk, emak pengantin akan mengambil kedua belah tangan pengantin perempuan lalu dipersalamkannya dengan tangan mempelai itu sebagai tanda mula berkenalan di alam suami isteri. Inilah yang dikatakan orang Melayu zaman dahulu, adat berkahwin dahulu kemudian berkasih.
Emak pengantin akan keluar dari bilik serta menutup pintunya dan meninggalkan kedua-dua pengantin suami isteri itu bersendirian kira-kira sejam dua bagi memberi peluang kepada mereka untuk berkenalan. Selepas sejam, emak pengantin itu akan masuk semula dan membawa pengantin perempuan keluar dari bilik, manakala mempelai itu akan ditinggalkan bersendirian.
Pengantin perempuan itu tidak akan dibawa masuk semula ke dalam biliknya, melainkan jika persandingan itu selesai selepas maghrib. Pengantin perempuan hanya akan dibawa masuk ke bilik semula pada waktu makan malam untuk melayani suaminya makan atau makan bersama-samanya, dan selepas makan malam pengantin perempuan itu mengikut adat, masih tidak lagi dibenarkan duduk berdua dengan suaminya. Adat ini akan berlangsung selama dua hari dua malam selepas pengantin perempuan itu menjalani upacara bersanding di mana beliau akan disalinkan dengan pakaian yang indah-indah empat kali sehari iaitu pada makan pagi (futur), makan tengah hari, minum teh petang dan makan malam. Pada waktu melayan makan suaminya, pengantin perempuan digalakkan duduk lebih lama di dalam bilik bersama suaminya bagi memberikan mereka peluang bergurau senda dan bermesra.
Pada hari yang ketiga, atau ada juga pada hari yang keempat, tibalah masanya untuk pengantin suami isteri itu tidur bersama di waktu malam. Mengikut adat, selepas selesai makan malam bersama suaminya dan sebelum masuk tidur, pengantin perempuan akan dibawa keluar dari bilik pengantin oleh emak pengantin dan disalinkan dengan pakaian serba putih sama seperti cadar di katil pengantin yang sudah siap ditukar. Pada malam itu juga, akan diadakan persembahan bunyi-bunyian dan tarian seperti zapin atau yang seumpamanya, bagi meraikan malam persatuan hayat kedua-dua pengantin suami isteri itu.
Pada esok paginya, sebelum adat mandi-mandian atau berlimau dijalankan, emak pengantin akan bertemu dengan pengantin lelaki untuk memeriksa daripadanya tanda yang membuktikan isterinya itu masih lagi anak dara dan biasanya, suami atau mempelai itu akan menyerahkan sehelai sapu tangan putih yang mengandungi tanda yang dikehendaki itu kepada emak pengantin dan sapu tangan tersebut akan dibawa oleh emak pengantin lalu ditunjukkan kepada ibu bapa pengantin lelaki. Setelah selesai semuanya adat mandi-mandian atau berlimau akan diadakan.

ADAT RESAM MELAYU .menyambut kelahiran.

MENYAMBUT KELAHIRAN
Anak adalah merupakan sesuatu yang amat bernilai bagi setiap pasangan yang telah mendirikan rumahtangga. Ini kerana di samping menceriakan suasana rumahtangga, anak merupakan zuriat penyambung keturunan bagi sesebuah keluarga.
Biasanya, seorang isteri akan mula menunjukkan tanda-tanda sedang mengandung apabila berasa loya dan sering muntah-muntah. Pada waktu begini,

 isteri biasanya lebih gemarkan makanan yang masam untuk mengurangkan rasa mual seperti memakan mangga muda, mempelam mahupun asam atau jeruk.

Bagi masyarakat Melayu, sebaik sahaja berita gembira tersebut diketahui, si isteri akan dijaga bagai menatang minyak yang penuh oleh suami dan ahli keluarganya yang lain, tambahan pula jika anak yang dikandung adalah anak sulung atau

dipanggil bunting sulung. Pada waktu begini, si isteri biasanya akan mengalami perasaan pelik-pelik seperti mengidam. Mengidam ialah keadaan di mana

seseorang terlalu berkeinginan untuk melakukan sesuatu atau makan sesuatu yang biasanya tidak pernah diminta sebelum ini. Permintaan isteri tersebut adalah perlu ditunaikan oleh suami walau apa jua rintangan dan halangan yang harus ditempuhi. Ini kerana dalam adat dan kepercayaan Melayu, sesuatu yang buruk akan menimpa ibu dan anaknya jika apa yang diidamkan tidak dapat dipenuhi.

Selain itu, kedua-dua suami isteri haruslah menjaga adab dan kelakuan mereka sepanjang tempoh isterinya mengandung. Ini adalah kerana dalam kepercayaan Melayu, wujud keadaan mengenan atau kecacatan kepada sifat fizikal bayi sekiranya salah seorang dari ibu bapanya melakukan penganiayaan terhadap haiwan atau sebagainya.

 Fenomena sumbing dikatakan salah satu contoh keadaan yang akan menimpa bayi sekiranya si suami pergi memancing ikan ketika isterinya sedang mengandung. Mulut bayi akan kelihatan seperti tertarik ke atas seolah-olah mulut ikan yang telah tersangkut pada pancing. Keadaan-keadaan lain yang turut dapat dijadikan contoh adalah seperti kulit yang bersisik seperti ular ataupun keadaan rupa paras yang seakan-akan rupa monyet.

Bukan itu sahaja, pasangan yang bakal menimang cahayamata juga dinasihatkan supaya sentiasa mengamalkan bacaan surah-surah yang terpilih dari Al-Quran, misalnya Surah Yusof dan Surah Muhammad. Surah Yusof diamalkan untuk memperolehi anak yang elok rupa parasnya dan Surah Muhammad diamalkan dengan harapan anak yang bakal lahir akan cerdik dan pandai serta mempunyai sifat terpuji.

Mengikut adat dan kepercayaan Melayu, barang-barang persiapan untuk menyambut kelahiran bayi seperti peralatan bayi, buaian, mandian dan pakaiannya tidak boleh disediakan selagi kandungan ibu belum mencukupi lima bulan. Ini kerana dikhuatiri sesuatu yang buruk akan menimpa bayi tersebut, seperti keguguran ataupun mengikut kepercayaan akan dicuri Orang Bunian.

Selain itu, perlakuan si ibu sepanjang tempoh mengandung akan turut mempengaruhi bayi apabila lahir kelak. Maka, orang tua-tua berpendapat bahawa ketika mengandung, si ibu perlulah sentiasa bermanis muka dan ringan tangan supaya anak yang bakal dilahirkan akan bersifat sedemikian setelah lahir.

Setelah genap sembilan bulan, kelahiran bayi akan disambut dalam suasana yang penuh kesyukuran dan kegembiraan oleh seisi keluarga. Selepas dibersihkan oleh bidan, sekiranya bayi tersebut lelaki, si bapa atau datuknya akan mengazankan di telinga kanannya, manakala bagi anak perempuan akan diiqamatkan di telinga kirinya. Ini adalah ritual yang pertama sekali dilakukan ketika menyambut kehadiran satu lagi insan di dalam dunia

 ini yang dilahirkan dalam adat Melayu. Kemudian, tali pusat akan dipotong bagi memisahkannya dari alam yang gelap di perut ibu ke alam baru yang menantinya. Menurut sesetengah kepercayaan, bayi dikatakan menangis ketika dilahirkan kerana terkejut melihat keadaan alam yang penuh dosa. Ada pula yang mengatakan bayi tersebut ditakut-takutkan oleh hantu syaitan, dan tidak kurang juga ada yang mengatakan bayi tersebut menangis kerana takut dengan beban yang bakal dipikulnya dalam kehidupan kelak.

Setelah selesai dimandikan, si bapa akan berperanan menanam uri bayi seperti upacara pengkebumian jenazah. Ini kerana uri dianggap sebagai saudara kembar dan teman bayi sewaktu di dalam perut ibu. Ia perlu ditanam dengan sempurna supaya tidak datang mengganggu bayi. Di antara pantang larang menanam uri ialah uri tidak boleh

ditanam di luar rumah kerana dipercayai anak tersebut apabila dewasa akan sukar dikawal perlakuannya. Ini juga bagi mengelakkan berlakunya penyalahgunaan oleh pihak tertentu yang ingin menjalankan upacara perbomohan atau pemujaan.
Kesemua adat dan upacara menerima kehadiran orang baru ini termasuk dalam salah satu jenis ritual iaitu dinamakan Rites of Initiation.


Ahad, 19 Jun 2011

ADAT RESAM MELAYU. mandi selepas berpantang.

MANDI SELEPAS PANTANG

Selepas tamat tempoh berpantang, iaitu selepas empat puluh empat hari, maka pada hari yang keempat puluh lima akan diadakan kenduri kecil di antara ahli keluarga. Ibu tersebut akan dimandikan dengan air sintok limau serta dilangirkan sebagai syarat melepaskan pantang. Bermula dari hari tersebut, maka ibu itu bebas menjalankan kerja-kerja rumahtangga atau sebarang pekerjaan lain. Berpantang sebenarnya bertujuan bagi mengelakkan bentan yang bermaksud sakit yang akan timbul akibat daripada melanggar pantang. Antara gejala bentan ialah rasa sakit di ari-ari atau kemaluan, keluar nanah atau darah dari saluran peranakan ataupun berlakunya buasir. Adalah digalakkan bagi suami isteri untuk bersama setelah tamat upacara mandi selepas pantang kerana ini akan mengeratkan kemesraan di antara keduanya.


SAMBUT-MENYAMBUT (BERTANDANG)

Pada petang hari upacara mandi-mandian itu dijalankan, kedua-dua pengantin suami isteri akan disambut ke rumah pengantin lelaki, iaitu ke rumah suaminya. Di kalangan sesetengah orang berada pada masa dahulu, adat menyambut ini akan dilakukan dengan secara besar-besaran juga, iaitu dengan mengarak kedua-dua pengantin itu dan disandingkan sekali lagi sambil diadakan jamuan kenduri-kendara. Mereka akan tinggal di rumah pengantin lelaki selama beberapa hari sebelum pulang semula ke rumah pengantin perempuan. Inilah penamat upacara nikah kahwin dalam masyarakat Melayu.

ADAT RESAM MELAYU. mandi berlimau.

MANDI-MANDIAN ATAU BERLIMAU
Setelah sempurna kedua-dua pengantin suami isteri itu menunaikan satu daripada hikmah perkahwinan, maka akan diadakan sekali lagi persandingan di atas pelamin.

Namun, pengantin tidak akan dipakaikan dengan pakaian pengantin dan persandingan ini hanya melibatkan sanak saudara sahaja. Setelah bersanding, kedua-duanya akan turun duduk di bangku yang terletak di tengah tengah rumah itu dan di-sinilah dijalankan upacara mandi-mandian dan bersintok limau sebagai menandakan persatuan antara

kedua pengantin suami isteri itu telah sempurna dan selamat. Setelah kedua-duanya selesai dimandi dan disintok limaukan mengikut syarat, mereka pun dibawa oleh emak pengantin ke bilik peraduan pengantin dengan keadaan suami memimpin isterinya

dengan memegang sehelai sapu tangan masuk ke bilik. Manakala di luar, sekalian hadirin yang ada akan menyiram air tersebut sesama mereka sambil bersuka ria. Air yang digunakan untuk upacara ini disediakan dalam pelbagai warna bagi menambah kecantikannya dan dianggap sakral bagi masyarakat Melayu.


Kain basahan yang dipakai oleh pengantin suami isteri itu mengikut adat tidak boleh diambil oleh mereka. Kain tersebut akan dijadikan hadiah pemberian kepada emak pengantin. Menurut adat Melayu, bukan sahaja kain basahan itu tidak boleh diambil semula oleh kedua pengantin itu malah mereka juga ditegah untuk memerah

sendiri kain tersebut. Ini semua bertujuan untuk membuang rasa takut atau menolak bala daripada kedua-dua pengantin itu. Kain tersebut akan diambil dan disimpan oleh emak pengantin bagi membantu membuang dan menjauhkan bala.

ADAT RESAM MELAYU. berinai di pelamin.

BERINAI DI PELAMIN
Sungguhpun adat berinai di pelamin ini tidak lagi dijalankan oleh masyarakat sekarang, akan tetapi masih juga terdapat keluarga yang tetap mengamalkannya. Ini kerana adat menginai ini memerlukan perbelanjaan yang lebih besar dan agak rumit, maka hal ini menyebabkan upacara ini semakin dilupakan. Adat berinai di pelamin ini dilakukan dalam 3 peringkat. Pada kali pertama ia dinamakan berinai curi, pada kali kedua dinamakan berinai kecil dan pada kali ketiga dinamakan berinai besar.
Dalam kebanyakan negeri, biasanya adat berinai di pelamin ini dijalankan pada malam hari. Berbeza dengan negeri Johor, upacara ini dijalankan di sebelah petang.
Upacara berinai akan dijalankan sebelum upacara akad nikah dan bersanding. Dalam majlis tersebut, anak dara itu akan dipakaikan dengan pakaian yang indah-indah, iaitu pakaian pengantin, lalu dibawa duduk di atas pelamin yang terletak di ruang tamu. Anak dara itu akan duduk di hadapan sekumpulan kaum keluarga dan sahabat handai yang biasanya terdiri daripada kaum perempuan. Bagi upacara berinai curi dan berinai kecil, hanya pengantin perempuan sahaja yang akan duduk di atas pelamin dan diinaikan. Pengantin lelaki akan datang ke rumah pengantin perempuan untuk diinaikan pada upacara berinai besar. Dalam upacara tersebut, pengantin perempuan akan diinai terlebih dahulu di atas pelamin. Setelah selesai, pengantin perempuan akan dibawa masuk ke dalam bilik dan pengantin lelaki pula akan diinaikan di atas pelamin. Ringkasan cara menginai di atas pelamin itu adalah seperti berikut :
Di atas pelamin, di hadapan pengantin itu akan diletakkan sebuah pahar berkaki tinggi yang disusun dengan beberapa bekas dan piring, satu berisi beras kunyit, satu berisi bertih dan satu lagi berisi air tepung tawar yang lengkap dengan perenjisnya. Di tengah-tengah pahar itu diletakkan sebiji astakona kecil berisi inai yang sudah siap digiling halus. Pengantin akan diinaikan secara bergilir-gilir oleh ahli keluarga dan upacara akan dimulakan dengan ahli keluarga lelaki yang berpangkat tua-tua seperti datuk, bapa dan bapa saudara.
Mula-mula, sejemput beras kunyit akan diambil dari bekas yang di atas pahar tersebut dan dihamburkan ke kiri dan kanan pengantin. Kemudian, diikuti dengan sedikit bertih dan akhir sekali perenjis tepung tawar akan dicicahkan sedikit ke dalam bekas berisi air tepung tawar lalu ditepukkan sedikit ke atas belakang tangan pengantin yang berada di atas ribaan pengantin itu. Akhir sekali, inai akan dicubit sedikit dari astakona inai dan dicalitkan di tapak tangan yang sudah beralas dengan daun sirih. Setelah selesai, emak pengantin akan menyusunkan jari kedua-dua tangan pengantin itu dan diangkatkan ke muka pengantin seperti orang menyembah. Dalam adat ini, bilangan orang lelaki yang hendak menginaikan pengantin mestilah ganjil, iatu tiga, lima atau tujuh orang. Setelah tamat diinaikan oleh orang lelaki, mereka akan keluar daripada majlis itu dan upacara diteruskan oleh orang perempuan dengan cara yang sama juga. Cara yang sama akan dilakukan dalam setiap majlis berinai tidak kira ianya majlis berinai curi, berinai kecil atau berinai besar. Apa yang berbeza hanyalah pengantin lelaki akan turut diinai dalam adat berinai besar.


ADAT RESAM MELAYU. bercukur jambul.

BERCUKUR JAMBUL
Selepas tujuh hari dari hari bersalin, lazimnya diadakan kenduri nasi kunyit, kerana itulah harinya adat mencukur kepala anak kecil itu dijalankan. Kelengkapan yang disediakan untuk adat mencukur ini adalah seperti berikut:
•  Anak kecil atau bayi itu dipakaikan dengan pakaian yang cantik dan diletakkan dia di atas tilam kecil.
•  Satu dulang berisi tiga biji mangkuk atau piring yang berisi air tepung tawar, beras kunyit dan bertih.
•  Sebiji kelapa mumbang yang besar sedikit dipotong pada arah kepalanya dengan potongan berkelok-kelok siku-keluang dan dijadikan penutupnya daripada potongan itu. Air kelapa itu dibuang dan diisi ke dalamnya sedikit air sejuk, dan kelapa itu diletakkan di dalam sebiji batil semuat-muat kelapa itu sahaja. Biasanya, kelapa itu dihiasi dengan lilitan rantai emas atau perak dan dicucuk dengan tajuk-tajuk rekaan yang indah-indah rupanya.
Apabila kesemuanya sudah siap, maka bayi itu pun dibawa keluar dan dikelilingkan kepada tetamu-tetamu lelaki yang hadir dan setiap seorang daripada mereka dikehendaki menepuk sedikit tepung tawar, menebar sedikit beras kunyit dan bertih kepada bayi itu. Setelah perkara tersebut dilakukan, barulah tetamu-tetamu lelaki tadi menggunting sedikit sahaja rambut bayi itu dengan gunting yang telah disediakan. Lalu rambut yang digunting itu dimasukkan ke dalam kelapa yang telah diisi air. Bilangan orang yang menggunting rambut bayi itu hendaklah dalam bilangan yang ganjil, iaitu tiga, lima atau tujuh atau seumpamanya. Pada masa inilah anak itu diberi nama oleh si bapa. Nama yang diberi adalah nama yang indah dan memberi maksud yang baik. Setelah selesai adat bercukur dan memberi nama anak yang telah dilakukan oleh pihak lelaki, anak itu akan dibawa masuk ke dalam rumah itu dan hal seperti menggunting rambut anak itu dilakukan pula oleh pihak perempuan.
Setelah selesai kedua-dua pihak lelaki dan perempuan menjalankan perkara di atas, maka barulah kepala anak itu dicukur seluruhnya oleh tok bidan atau sesiapa yang mahir dengan kerja itu. Rambut anak yang telah dicukur itu dimasukkan semuanya ke dalam kelapa itu dan segala rantai dan tajuk-tajuk yang menghiasi kelapa itu dibuka dan dicabut. Kemudian kelapa itu biasanya akan ditanam di mana-mana di halaman rumah bersama-sama sepohon kelapa atau lain-lain seumpamanya sebagai peringatan masa anak itu dilahirkan pada masa hadapan kelak. Namun begitu, orang Melayu di bandar yang sudah moden sekarang tidak banyak lagi menjalankan adat ini, rata-rata orang Melayu kampung sahaja yang masih banyak dan gemar melakukan adat resam mencukur dan menamakan anak. Berkenaan dengan menamakan anak undang-undang kerajaan telah menetapkan bahawa anak yang baru dilahirkan perlulah diberi nama dalam tempoh 24 jam kerana dalam tempoh itu anak yang telah diberi nama itu dikehendaki didaftarkan di pejabat pendaftaran.


ADAT RESAM MELAYU. meminang & bertunang.

MEMINANG DAN BERTUNANG
Setelah kata persetujuan dicapai oleh keluarga di pihak lelaki, wakil dari pihak lelaki yang biasanya dipilih dari kalangan orang tua-tua akan diutuskan oleh ibu bapa lelaki tersebut untuk mewakili mereka meminang anak dara yang telah dipilih. Biasanya, ibu bapa kepada

anak dara tersebut tidak akan memberi jawapan yang muktamad kepada pihak yang datang meminang kerana mengikut adat, mereka sepatutnya diberi tempoh untuk memberi jawapan atau

dipanggil bertangguh. Ini kononnya kerana hendak berpakat dengan ahli-ahli keluarga dan waris yang rapat, walaupun sebenarnya mereka memang sudah bersedia untuk menerima pinangan itu.

Sebenarnya, adat bertangguh ini mencerminkan budaya Melayu yang amat berhati-hati dalam menentukan jodoh dan menunjukkan kesopanan dalam setiap tingkahlaku. Sudah menjadi rutin dalam kehidupan seharian masyarakat Melayu untuk tidak tergopoh-gapah

dalam mengendalikan apa sahaja dan adalah menjadi pegangan bahawa setiap hal yang dilaksanakan perlu dijalankan dengan rapi dan tersusun mengikut adat yang ditetapkan.

Setelah tamat tempoh yang diberikan, biasanya 2 hari, namun ada juga yang sampai seminggu, pihak perempuan akan menghantar rombongan yang dihadiri oleh orang tua-tua yang mewakili pihak mereka untuk memberikan

jawapan. Sekiranya pinangan diterima, pada pertemuan itu mereka akan berbincang tentang segala syarat berkenaan mas kahwin dan hantaran perbelanjaan majlis perkahwinan. Tarikh yang sesuai juga akan dipilih untuk

 melangsungkan perkahwinan. Sekiranya perkahwinan itu agak lambat dijalankan, pihak lelaki biasanya akan Menghantar Tanda terlebih dahulu kepada pihak perempuan.

Konsep Menghantar Tanda adalah diertikan sebagai “putus cakap”. Ini bermaksud pinangan dari pihak lelaki sudah pun diterima oleh pihak perempuan. Oleh yang demikian, maka penghantaran tanda daripada lelaki kepada anak dara yang bakal dikahwininya akan dilakukan melalui upacara bertunang. Upacara ini membawa pengertian bahawa

 anak dara tersebut sudah pun dimiliki dan kini dipanggil tunangan orang. Tanda yang dihantar oleh lelaki tersebut mengikut adat lazimnya adalah sebentuk cincin sahaja, iaitu cincin berbatu intan atau berlian, besarnya mengikut citarasa dan kemampuan ibu bapa lelaki tersebut. Namun begitu, bagi masyarakat Melayu, selain cincin, beberapa

 barangan lain turut diberikan seperti sepasang kain dan selendang, selipar atau sepatu, kuih-muih, manisan, dan yang paling utama dan dianggap sakral, sirih junjung. Semua hantaran akan dihias dengan cantik dan menarik serta akan dibalas oleh pihak perempuan sebagai tanda setuju menerima pinangan. Jumlah hantaran yang dihantar

 oleh pihak lelaki akan dibuat dalam angka ganjil dan dibalas lebih oleh pihak perempuan, selalunya sebanyak dua dulang. Contohnya, jika pihak lelaki memberikan 7 hantaran dulang, biasanya pihak perempuan akan membalas 9 dulang. Hantaran dari pihak perempuan biasanya berupa sirih junjung, sepersalinan baju melayu, capal dan kuih-muih.
Sekiranya dalam tempoh menunggu diijabkabulkan, ikatan pertunangan diputuskan oleh pihak lelaki, maka cincin dan segala barang hantaran tidak boleh diminta semula dari pihak perempuan. Berbeza pula halnya jika ikatan

pertunangan diputuskan oleh pihak perempuan. Jika ia diputuskan tanpa sebarang sebab yang dapat diterima umum, maka pihak perempuan hendaklah mengembalikan semula segala hantaran yang telah diberikan oleh pihak lelaki itu dalam nilai sekali ganda banyaknya atau harganya.
Selain dari adat pertunangan yang disebutkan di atas, terdapat 2 lagi cara pertunangan yang juga wujud dalam adat resam Melayu, iaitu :

•  Pertunangan yang dilakukan oleh ibu bapa kedua-dua pihak sewaktu anak mereka masih kecil lagi, dan ini tidak memerlukan penghantaran tanda. Hal ini berlaku mungkin kerana ikatan persahabatan yang erat dan mesra di

antara ibu bapa kedua belah pihak dan ikatan itu diharapkan dapat merapatkan lagi ikatan silaturrahim antara mereka. Pertunangan yang demikian biasanya dihormati dan dilangsungkan sehingga kedua-dua anak itu berkahwin.

•  Pertunangan mengikut wasiat salah seorang daripada ibu bapa yang telah meninggal dunia di antara dua buah keluarga. Ini juga tidak memerlukan penghantaran tanda dan biasanya diakhiri dengan ikatan perkahwinan.

MAJLIS PERKAHWINAN PERKAHWINAN
Di antara kesemua adat resam orang Melayu, upacara atau aturan yang berhubung dengan perkara nikah kahwin adalah sesuatu yang amat diambil berat dan dianggap penting. Ia akan dijalankan secara besar-besaran dan

melibatkan kesemua anggota masyarakat setempat yang dikenali sebagai penduduk sekampung serta seluruh sanak saudara. Oleh hal yang demikian, adat ini dikategorikan sebagai adat yang paling rumit dilaksanakan kerana

 memerlukan modal yang banyak untuk menjalankan kenduri kendara, majlis persandingan dan lain-lain upacara di samping memerlukan tenaga kerja yang ramai dan memakan masa yang panjang. Dalam adat nikah kahwin ini

, bagi masyarakat Melayu, terdapat 3 fasa yang perlu dilalui sebelum sesebuah rumahtangga didirikan dan ia merupakan suatu adat yang perlu dipatuhi bagi melengkapkan sesuatu perkahwinan.